
Engkau hanya menjawab pelan ketika ku tanya alasannya. Bukan, bukan itu yang aku minta. Hanya keinginan untuk mendengar satu alasan yang rasionil, yang engkau keluarkan sesuai dengan degup irama jantungmu, sesuai bisikan nuranimu yang takkan pernah aku ketahui meskipun kutatap jendelanya dengan leluasa.
Kusapa bayangmu di balik kegelapan sebuah pemberhentian, disini… dihadapan bidadari itu kau labuhkan harapan, kau sematkan keyakinan, kau pakaikan dengan bingkai kesetiaan, untuk kedua kalinya, meski berakhir untuk selamanya.
bayang itu tak pernah ada lagi, tersubtitusi dengan bayang-bayang yang tak pernah kukenali. Untaian hati tak terdengar lagi, tereduksi oleh suara yang tak pernah kumengerti.
Disisi ujung bangku kosong itu, kau tatap harap kepastian, kau sunggingkan harapan. Disitu terlukis tapak-tapak penantian, membekas dalam tiap ayunan langkah sang bidadari . Engkau akan kembali, kembali dan takkan berlalu lagi.
Kini ujung penantian itu telah terpahami olehmu, oleh rekan-rekanmu, oleh orang tuamu. Jangan pernah kau salahkan sang bidadari apalagi sampai kau salahkan diri.
Tak perlu kau telan sendiri, karena itu takkan pernah mungkin. Sekeliling sudah merasa, sekitar nya sudah terimbas, takkan mungkin kau sendirian.
Naluri bidadari, meski tercermin dalam dirinya tempaan ujian sepanjang perjalanan, terekam getir dan manisnya episode pencarianya, dia tetap hati yang terkungkung dalam wadah rentan retak. Tak ingin lagi kujumpai keresahanmu, tak sanggup lagi kusaksikan kegundahanmu , tak harap lagi kusentuhi kekalutanmu, dan takkan kubiarkan lagi kuramerasai kekecewaanmu
Ketika jiwa terasa kerontang,,,ketika hati tak lagi gelisah,,,
Terang dilangit pesona bintang nan gemerlap ribuan mil jauhnya